SMAN 1 SOOKO adalah salah satu sekolah senior dan favorit di kabupaten Mojokerto yang saat ini telah memiliksi sertifikat  ISO 9001 : 2008 dan sebagai Sekolah Adiwiyata Tingkat Nasional. Seperti yang kita ketahui bahwa SMAN 1 Sooko adalah salah satu sekolah senior di kabupaten Mojokerto, tepatnya berada di jalan R. Ahmad Basuni No. 361. SMAN 1 SOOKO atau yang lebih akrab disingkat SMANSASOO ini awal mulanya berdiri pada tahun 1960 oleh Bupati R. Ardi Sriwidjojo. Sekolah ini didirikan atas dorongan masyarakat Kabupaten dan kota Mojokerto yang dulu bernama SMA Negeri Mojokerto. Menurut sumber pada tahun ini kegiatan belajar mengajarnya di Balai Prajurit sebelah Timur Alun-alun ( sekarang menjadi gedung DPRD Kabupaten).

Tahun 1963, Sekolah menempati gedung baru di Bajar Agung Kecamatan Puri dekat daerah Gatoel Mojokerto. Gedung ini didirikan oleh Bupati dan beberapa tokoh masyarakat yang tergabung dalam Yayasan Pendidikan Umum. Di tempat inilah SMA Negeri Mojokerto dikenal dengan SMA Gatoel namun pada tahun 1972 berubah nama menjadi SMPP ( Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan ) dengan tambahan segala fasilitas lengkapseperti Lab IPA, bengkel ketrampilan, Sanggar Seni yang ditempatkan pada lahan luas di Jl.RA Basuni 361 Kecamatan Sooko. Dengan fasilitas seperti ini maka kantor pusat dan Tata Usaha SMPP Mojokerto ditempatkan di Sooko, tapi SMA Mojokerto yang baru terbentuk itu sebagai filias SMPP Mojokerto. Tahun 1984 SMPP Mojokerto berganti nama menjadi SMAN 1 SOOKO , sedangkan SMA Negeri Mojokerto di daerah Gatoel berganti nama SMAN 1 PURI dan pada tahun 1994 SMAN 1 SOOKO diubah namanya menjadi SMUN 1 SOOKO. Dan akhirnya tahun 2004 namanya berganti kembali menjadi SMAN 1 SOOKO hingga sekarang.

Tambahan Bapak Mukhammad Kholiq (Alumni 1984).

Pendirian SMPP Mojokerto berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 0236/0/1973 tertanggal 18 Desember 1973 tentang Pembukaan Beberapa Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan. Dalam SK tersebut diputuskan, ditetapkan pertama: Terhitung mulai tahun ajaran 1974 membuka 34 SMPP se Indonesia antara di: (1) Cempaka Putih (DKI Jakarta), (2) Sukabumi , (3) Sumedang, (4) Subang, (5) Cirebon, (6) Wonogiri, (7) Rembang, (8) Brebes, (9) Purwokerto, (10) Yogyakarta, (11) Banyuwangi, (12) Kediri, (13) Jombang, (14) Lamongan, (15) Pasuruan, (16) Bondowoso, (17) Tulungagung, (18) Mojokerto, (19) Pamekasan, (20) Nganjuk, (21) Bojonegoro, (22) Blitar, (23) Banda Aceh, (24) Nedan, (25) Payakumbu, (26) Palembang, (27) Pontianak, (28) Banjarmasin, (29) Manado, (30) Watampone, (31) Ambon, (32) Denpasar, (33) Mataram, (34) Kupang. Kedua: Menugaskan kepada para Kepala Perwakilan Depdikbud setempat untuk segera langkah-langkah dalam rangka pelaksanaan Keputusan ini, dengan ketentuan bahwa gedung sekolah, perlengkapan dan fasilitas pendidikan yang telah ada, yang disiapkan untuk pembukaan SMPP diambilkan dari SMA setempat yang ada.

Memperhatikan SK tersebut perlu diketahui bahwa tahun ajaran saat itu dimulai 2 Januari. Keputusan kedua SK tersebut yang dimaksud dengan Kepala Perwakilan Depdikbud setempat untuk Mojokerto dan lain yang berada di jawa timur ialah Kepala Kantor Wilayah Depdikbud Provinsi Jawa Timur. Dalam hal ini Kepala Kanwil menunjuk dan menghapus SMA (Negeri) Mojokerto yang berlokasi di Banjaragung Puri dekat Gatoel menjadi SMPP Mojokerto.

Untuk memenuhi ketentuan Mendikbud No. 0199/0/1973 tentang SMPP dan Penyelenggaraannya, maka dibangunlah gedung SMPP Mojokerto yang berlokasi di Jalan Raya Sooko. Dipilihnya lokasi itu, karena lokasi itu oleh Bupati R. Achmad Basuni akan dijadikan sebagai kawasan pelajar ; di situ ada SMEA Mojokerto (sekarang SMKN 1 Sooko), PGAN = Pendidikan Guru Agama Negeri (sekarang MAN Mojokerto), SPMA = Sekolah Pertanian Menengah Atas (sekarang Gedung KPU) sehingga jalan itu dinamakan jalan R. Achmad Basuni. Dengan selesainya gedung itu, maka SMPP di Banjaragung Puri dekat Gatoel untuk jurusan IPS, sedang SMPP di Sooko untuk jurusan IPA.

Pada tahun pelajaran 1981/1982 dirasa kurang sekolah menengah umum tingkat atas, maka didirikan lagi SMA yang diberi nama SMA (Negeri) Mojokerto. Dalam hal ini gedung yang digunakan adalah gedung SMPP yang ada di Banjaragung Puri dekat Gatoel sehingga saat itu terdapat dua sekolah menengah umum tingkat atas yaitu SMA Mojokerto di Gatoel dan SMPP Mojokerto di Sooko. (Beberapa minggu kemudian berdirilah SMA Mojosari sebagai filial SMPP Mojokerto yang kalau tidak salah untuk menampung putra-putri pejabat Surabaya yang tidak diterima di SMA favorit Surabaya)

Pada 9 Agustus 1985 terbitlah Keputusan Mendikbud Nomor 0355/O/1985 tentang Perubahan Nama Sekolah Menengah Pembangunan (SMPP) Menjadi Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas (SMA). Berdasarkan keputusan ini, maka SMPP se Jawa Timur berubah namanya sebagai berikut:
– SMPP Bannyuwangi menjadi SMA Negeri 2 Banyuwangi
– SMPP Pare menjadi SMA Negeri 2 Pare
– SMPP Jombang menjadi SMA Negeri 2 Jombang
– SMPP Lamongan menjadi SMA Negeri 2 Lamongan
– SMPP Pasuruan menjadi SMA Negeri Pandaan
– SMPP Bondowoso menjadi SMA Negeri 3 Bondowoso
– SMPP Tulungagung menjadi SMA Negeri 2 Tulungaung
– SMPP Mojokerto menjadi SMA Negeri Sooko
– SMPP Pamekasan menjadi SMA Negeri 2 Pamekasan
– SMPP Nganjuk menjadi SMA Negeri 2 Nganjuk
– SMPP Bojonegoro menjadi SMA Negeri 2 Bojonegoro
– SMPP Blitar menjadi SMA Negeri Wlingi
– SMPP Surabaya menjadi SMA Negeri 16 Surabaya

Memperhatikan keputusan tersebut maka pada kelas 1 tahun pelajaran 1985/1986 bernomenklatur SMA Negeri Sooko, sedang kelas 2 dan kelas 3 masih SMPP Mojokerto hingga tahun pelajaran 1988/1989 merupakan kali pertama meluluskan SMA Negeri Sooko.